Senin, 14 Januari 2019

PERBANYAKAN Trichoderma sp. PADA MEDIA CAIR



Trichoderma merupakan cendawan antagonis yang telah dikenal oleh banyak kalangan sebagai agens pengendali hayati penyakit tanaman. Penelitian dan pengembangan Trichoderma terus dilakukan untuk mencapai efisiensi dan efektifitasnya, termasuk kemudahan dalam aplikasi. Beberapa pihak lebih banyak mengembangkan Trichoderma dalam media padat daripada dalam media cair. Hal ini lebih disebabkan kebiasaan yang telah dilakukan dari masa ke masa, juga karena tingkat kerumitan metode perbanyakan pada media cair yang menuntut keaseptisan proses pelaksanaannya. Namun dibalik kelemahan tersebut, perbanyakan Trichoderma pada media cair memiliki beberapa kelebihan yang belum banyak diketahui banyak pihak, antara lain kemudahan dalam aplikasi dan terpacunya produksi metabolit sekunder yang sejatinya merupakan bahan aktif yang berperan penting dalam pengendalian penyakit tanaman.
Kemampuan berkembang Trichoderma pada media cair memang telah menjadi perdebatan. Sebagian menganggap bahwa Trichoderma tidak dapat diperbanyak pada media cair, namun hal ini telah dibantah oleh sebagian ahli di bidang pengendalian hayati, termasuk dalam hal ini penulis telah membuktikan bahwa Trichoderma dapat diperbanyak dengan media cair, namun harus memenuhi syarat penggojokan dan diberi tambahan oksigen steril dari luar,
Berdasarkan percobaan yang penulis lakukan, perbanyakan Trichoderma pada media cair mampu meningkatkan jumlah konidia sebesar 73,839 x106 /ml dalam waktu 7 hari serta meningkatkan viabilitas konidia sebesar 8,62%.

Langkah-langkah Perbanyakan Trichoderma dalam Media Cair

1.        Pembuatan media cair (Ekstrak Kentang Gula/EKG)
1)    Dikupas kentang kemudian dicuci hingga bersih
2)    Dipotong kecil-kecil (seperti dadu) kemudian ditimbang sebanyak 200 gram
3)    Disiapkan air steril sebanyak 1000 ml, didihkan.
4)    Dimasukan potongan kentang tersebut ke dalamnya.
5)    Diangkat potongan-potongan kentang jika warna kentang sudah mulai pucat dan agak lunak (sehingga tersisa ekstraknya)
6)    Disaring ekstrak kentang.
7)    Direbus kembali kemudian masukkan masukkan 20 gram dekstrose ke dalamnya sedikit demi sedikit.
8)    Diaduk hingga homogen dan tambahkan air sedikit demi sedikit hingga volumenya tetap 1000 mL.
9)    Disterilkan EKG menggunakan otoklaf dengan suhu 1210 C, tekanan 15 atm, selama 30 menit.
10) Media EKG siap digunakan

2.      Perbanyakan Trichoderma dalam media cair
1)    Starter Trichoderma diinokulasikan ke dalam media EKG yang sudah dingin menggunakan jarum ose.
2)    Buat instalasi tabung perbanyakan secara berurutan; larutan PK (sebagai sterilan udara), serabut wol (sebagai filter udara), media EKG + starter Trichoderma, dan air indikator
3)    Gojok Trichoderma dalam EKG menggunakan orbital shaker selama 7-14 hari dengan kecepatan 150 rpm.
4)    Trichoderma sudah dapat dipanen jika sudah terlihat massa spora di dinding tabung.
5)    Trichoderma hasil perbanyakan media cair siap diaplikasikan jika telah memenuhi syarat uji kualitas/mutu.




 Instalasi alat penggojok untuk perbanyakan Trichoderma cair




 Pengambilan metabolit sekunder











MENGENAL SOSOK MIEN ACHMAD RIFAI ILMUWAN INDONESIA PENEMU SPESIES Trichoderma


Bagi para biologiwan termasuk yang membidangi ilmu-ilmu tentang jamur (mikologi), tentu tidak asing dengan ilmuwan yang satu ini. Sumbangsihnya yang besar di bidang biologi membuatnya dikenal dunia. Hingga saat, ini karya-karya beliau sering menjadi rujukan para pakar di bidang botani dan mikologi. Bahkan, buku terbaru yang juga mejadi rujukan penulis yang berjudul “Trichoderma and Gliocladium” karya Cristian P Kubicek dan Gary E. Harman (editor) juga merujuk karya beliau yang cukup fenomenal. Beliau adalah Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D. yang akrab dipanggil Pak Mien.
Pak Mien lahir di Desa Gapura Tengah, Sumenep, Madura, pada tanggal 1 Januari 1940 dari pasangan Mas Atmosugondo dan H. Halimatusyabiah. Sejak sekolah dasar (1946) sampai dengan sekolah menengah atas ia menetap di Pamekasan. Pada masa remaja ia tertarik pada bidang budaya, sehingga ia bercita-cita menjadi seniman. Namun, orang tuanya tidak merestuinya karena hidup sebagai seniman tidak akan mendapatkan kehidupan yang baik. Akhirnya, ia memilih menjadi ilmuwan.
Setelah tamat SMA (1958), ia melanjutkan sekolah di Akademi Pertanian Ciawi Bogor. Pada tahun 1961, ia menyelesaikan pendidikan sarjana mudanya Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman dengan spesialisasi pengendalian hama oleh jamur. Pada tahun 1962 ia mengikuti tugas belajar di Universitas Sheffield, Inggris, dan magisternya diselesaikan dalam waktu dua tahun. Sehingga, dalam usia 26 tahun ia berhasil meraih gelar doktor.

Penemuan Spesies Baru Trichoderma
Berawal dari riset untuk keperluan tesis masternya, Pak Mien harus meneliti tentang daur hidup sekelompok jamur di inggris. Di tengah risetnya, beliau tertarik dengan persoalan taksonomi jamur tanah yaitu Trichoderma. Pada waktu itu, orang mengira hanya ada satu spesies Trichoderma di dunia, tapi kemudian dibuktikan oleh Pak Mien ternyata ada 50 spesies. Hasil riset ini mengguncang dunia mikologi. Oleh karena itu berdasarkan penemuannya, sistem klasifikasi Trichoderma direvisi secara keseluruhan dan hal ini menjadi awal dari terbitnya karya beliau yang berjudul “A Revision of The Genus Trichoderma”. Padahal itu terjadi pada tahun 1964 ketika DNA belum digunakan sebagai alat identifikasi, dan setelah ada metode identifikasi menggunakan karakter DNA, terbukti bahwa riset beliau benar.
Beliau juga menemukan berbagai kejanggalan sistem klasifikasi yang dianut para ilmuwan saat itu, ketika membandingkan kelas jamur Discomycetes Pezizales di Australia. Beliau mengususlkan perombakan besar-besaran dan menciptakan subordo Sarcocyphineae Rifai dan Pezizineae Rehm emend Rifai. Beliau juga meredefinisi konsep dan menciptakan 14 marga baru. Dalam empat tahun terakhir, temuan dan nama Pak Mien telah mendapat tempat mapan dan terhormat dalam kepustakaan mikologi internasional. Temuannya di bidang taksonomi dan etnobotaninya telah dipublikasikan dalam 300 jurnal internasional, belum termasuk 30 buku tentang hal yang sama. Tak kurang dari 80 jenis jamur juga menyandang nama Rifai yang tercantum di belakang nama spesies, antara lain Trichoderma harzianum Rifai., Trichoderma aureoviride Rifai., Trichoderma Puliluferum Webster & Rifai, dan lain-lain.
Riset yang dilakukan Pak Mien ini terbilang sangat luar biasa dan langka di dunia penelitian. Penemuan Pak Mien tentang jamur membuat beliau menjadi kiblat bagi para ilmuan lainnya, jika ada yang ingin melakukan riset tentang jamur. Beliau juga kerap dipercaya untuk menjadi narasumber utama pada acara seminar nasional maupun internasional. Setelah mendapatkan gelar Ph.D tahun 1967, Mien kembali ke Indonesia
Tidak cukup sampai di situ, setelah melakukan penelitian dan observasi lapangan Pak Mien juga menemukan lebih dari 100 tumbuhan baru yang belum bernama. Beliau pun menambahkan nama Rifai di belakang nama tumbuhan yang ditemukannya.

Karir Keprofesian
1.      Sebagai Ahli Jamur dan Botani
Pak Mien memulai kariernya sebagai guru praktik zoologi di Akademi Pertanian Ciawi, Bogor, pada tahun 1960-1962. Ia juga pernah menjadi demonstrator botani di Universitas Sheffield, Inggris (1963-1967). Pada tahun 1967, ia berkecimpung sebagai peneliti. Pada tahun 1976 ia menjadi peneliti utama LIPI. Pada tahun 1993, Pak Mien diangkat sebagai Guru Besar Luar Biasa di Universitas Indonesia (Jakarta) dan Institut Pertanian Bogor dalam bidang biologi.
Jabatan yang pernah diembannya, antara lain, Asisten Ilmu Hayat Herbarium Bogoriense, Bogor (1962), Kepala Herbarium Bogoriense, Bogor (1968-1977), Asisten Direktur Ilmiah Lembaga Biologi Nasional, LIPI, Bogor (1978-1985), Ketua Kelompok Peneliti Taksonomi Herbarium Bogoriense, Bogor (1989), Staf Ahli Wakil Ketua LIPI (1978-1992), Asisten II Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Pengembangan (1995), Asisiten V Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Kebijakan (1998-2000), dan Pjs. Sekretaris Jenderal Dewan Riset.
Selain itu, ada jabatan lain yang pernah diembannya, yaitu sebagai Komisi Tetap di Komisi Ahli Perpustakaan Biologi dan Pertanian, Departemen Pertanian (1968-1971), sebagai Standing Committee of Botany, Pacific Science Assiociation, Hawai (1971-1974), Sekretaris Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Nasional (1975-1996), Komisi Tetap di Internasional Committee of Museum, Paris (1976-1992), sebagai Executive Committee of International Mycological Association di London (1983-1990), Komisi Tetap di Nomenclatural Committee for Fungi and Lichenes IAPT, New York (1986-1993), Komisi Tetap di Dewan Riset Nasional, Jakarta (1993), Chairman Flora Malesiana Foundation, Leiden (1995-2001), Panitia Akreditasi Jurnal Ilmiah, Direktorat Pendidikan Tinggi (1995), Komisi Disiplin Ilmu Majelis Pendidikan Indonesia (1995), dan Ketua Panel Riset Unggulan Terpadu Bidang Lingkungan (2000).
Sebagai seorang ilmuwan, Pak Mien banyak mengikuti pertemuan ilmiah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pertemuan ilmiah dalam negeri yang diikuti, antara lain, Biotrop Indonesia National Meeting di Yogyakarta (1968), Simposium Fitopatologi di Bogor (1970), Asia Pacific Weed Seince Society Conference di Jakarta (1977), Pemanfaatan Biologi Terapan dalam Kewiraswastaan di Unsoed, Purwokerto (1987, Sidang Mabbim Ke-35 di Bukittinggi (1996), Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah di Unair, Surabaya (1997), dan Seminar Nasional Penggalang Taksonomi untuk Keperluan Masa Depan Indonesia di UNS, Solo (2003),
Pertemuan ilmiah di luar negeri yang dihadiri oleh Pak Mien, antara lain, XII Pacific Science Congress di Canberra, Australia (1971), First ASEAN Orchid Congress di Bangkok (1975), Seminar on Tropical Fungal Ecologi di Inggris (1988), Sidang Pakar Mabbim Ke-4 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam (1996), ABB First International Conference of IABG-Asian Devision di Tokyo, Jepang (1991), dan ASEAN- UNDP Rountable Meeting on Networking of Industrial Research Institute di Manila, Pilipina (1997).

2.      Sebagai Ahli Bahasa Indonesia
Meskipun Pak Mien dikenal sebagai pakar biologi, ia sangat peduli terhadap Bahasa Indonesia. Sejak tahun 1973, ia aktif dalam Panitia Pembinaan Bahasa Indonesia. Keaktifannya di Mabbim menghasilkan kamus istilah biologi. Ia juga terlibat dalam menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia dan merevisi Pedoman Umum Pembentukan Istilah Indonesia. Dalam kegiatan bahasa yang lain, Pak Mien juga Kongres Bahasa Indonesia IV (1983) dan Kongres Bahasa Indonesia VI (1993). Pada tahun 2002 ia menjadi Ketua Badan Pertimbangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional (2002). Setelah bebas dari jabatan struktural, ia merintis program studi taksonomi tumbuhan di Pascasarjana Institut Pertanian Bogor serta membantu pelaksanaan program studi keanekaragaman hayati di Universitas Indonesia.

Sejumlah karya beliau antara lain:
1.     The Austra Pezizales in Herbarium of the Royal Botanic Gardens (1968)
2.     A Revision of the Genus Trichoderma (1969)
3.     Ikhtisar Klasifikasi Dunia Djamur (Bogor: Herbarium Bogoriense, 1971)
4.     Kode Internasional Tata Nama Tumbuh-Tumbuhan (Bogor: Herbarium Bogoriense, 1973)
5.     50 Gulma di Perkebunan (GPP Jatim dan BPPB, Bogor, 1975)
6.     Daftar Istilah Biologi (Jakarta: Pusat Bahasa, 1980)
7.     Kamus Mikologi (Jakarta: Pusat Bahasa, 1982)
8.     Daftar Istilah Warna (Jakarta: Pusat Bahasa, 1984)
9.     Beberapa Penyakit Tanaman Pangan-Padi dan Palawija (bersama Ramlan H., Bustaman M., dan Herman M., Bogor, 1985)
10.  Kamus Istilah Biologi untuk Pelajar (bersama Basuki T., Sutisna U., Prana M.S., dan Adisoemarto S., Jakarta: PusatBahasa, 1985)
11.  Kamus Biologi: Anatomi, Morfologi, dan Taksonomi Botani (bersama Widjaya E.A., Jakarta: Depdikbud, 1988)
12.  Keanekaragaman Hayati untuk Kelangsungan Hidup Bangsa (bersama D.S. Sastrapradja, S. Adisoemarto, K. Kartawinata, dan S. Sastrapradja, Bogor: Puslitbang Bioteknologi, LIPI, 1989)
13.  Mohammad Noer (bersama N.K.S. Hendrowinoto, Jakarta: yayasan Biografi Indonesia, 1991)
14.  Mengenal Nusantara Melalui Floranya (bersama S. Ssatrapradja, Bogor: KPPNN, 1991)
15.  Kamus Mikrobiologi (bersama R.S. Hadioetomo dan Ganjar, Jakarta: Pusat Bahasa, 1992)
16.  Kamus Biologi: Reproduksi, Genetika, dan Evolusi (Jakarta: Pusat Bahasa, 1993)
17.  Kamus Biologi: Fitopatologi (Jakarta: Pusat Bahasa, 1993)
18.  Glosarium Biologi (Jakarta: Pusat Bahasa, 1993)
19.  Lintasan Sejarah Madura (Surabaya: Yayayasan Lebbur Legga, 1993)
20.  Ut Taxonomian Defendamus (Jakarta: FMIPA, UI, !995)
21.  Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia (Yogyakarta: UGM Unversity Press (1995)
22.  Kamus Biologi: Sitologi (bersama E.A. Widjaja dan Ermitati, Jakarta: Pusat Bahasa, 1996)
23.  Kamus Biologi (Jakarta: Balai Pustaka, 1999)
Atas prestasinya dan sumbangsihnya yang gemilang, beliau mendapat banyak penghargaan baik di dalam negeri maupun luar negeri, antara lain:
1.     Tanda Jasa Kehormatan Satyalancana Karya Satya Kelas I sebagai Pakar Peneliti Teladan KMNRT (1990)
2.     Tanda Jasa Kehormatan Satyalancana Pembangunan (1992)
3.     Piagam Penghargaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1993)
4.     Bintang Jasa Utama (1997)
5.     ASEAN Senior Meritorious Award (2001)
6.     Piagam Penghargaan Menteri Riset dan Teknologi (2002)
7.     Piagam Penghargaan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (2003) (LS)

Dari berbagai sumber

Jumat, 02 November 2012

METODE EKSPLORASI JAMUR ANTAGONIS


Jamur antagonis adalah kelompok jamur pengendali hayati yang mempunyai kemampuan mengganggu proses hidup patogen tanaman. Mekanisme jamur antagonis dalam menghambat patogen tanaman dapat melalui antibiosis, lisis, kompetisi, dan parasitisme. Di samping itu, jamur antagonis mampu mencegah infeksi patogen terhadap tanaman melalui aktivitas Induce Sistemic Resistance (ISR).
Eksplorasi merupakan langkah awal untuk mendapatkan antagonis yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menentukan waktu, tempat, metode, serta penanganan sampel hasil eksplorasi. Selanjutnya, jamur antagonis hasil eksplorasi perlu diuji di laboratorium (in vitro), rumah kasa (in planta), dan di lapangan (in situ). Jamur antagonis yang terpilih sebaiknya memilki sifat: (1) dapat menghambat pertumbuhan patogen tanaman, (2) berkecambah dan tumbuh dengan cepat, (3) tahan atau toleran terhadap antagonis lain, (4) persisten dalam keadaan ekstrim, (5) dapat diproduksi secara massal, dan (6) tidak menyebabkan gangguan terhadap tanaman.
Pada umumnya, eksplorasi jamur antagonis dari rizosfer tanaman lebih mudah dibandingkan dari sampel daun atau bagian tanaman yang lain, karena di rizosfer banyak terdapat senyawa-senyawa organik yang sangat berguna bagi pertumbuhan beberapa mikroorganisme, termasuk jamur antagonis. Senyawa organik yang dikeluarkan tanaman melalui akar dapat berupa  eksudat, sekresi, plant mucilage, mucigel, dan lisat. Jenis tanaman dan jenis tanah sangat menentukan jenis jamur antagonis yang ditemukan. Misalnya, Gliocladium banyak terdapat di rizosfer tanaman tebu, atau tanaman kacang-kacangan (leguminaceae). Beberapa jamur antagonis lain seperti Trichoderma mampu tumbuh pada jaringan tanaman sakit, atau yang telah lapuk, selain juga banyak ditemukan di tanah kompos.
Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam eksplorasi jamur antagonis adalah sebagai berikut:

1.        Eksplorasi dari sampel tanah
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menentukan jenis tanaman dan jenis tanah. Tanah di sekitar perakaran (rizosfer) tanaman digali sedalam 0-30 cm. Sampel tanah yang telah didapatkan kemudian diisolasi di laboratorium dengan metode pengenceran bertingkat (serial dillution)  hingga 103-106. Suspensi hasil pengenceran dituangkan/ditumbuhkan pada media Water Agar (WA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni-koloni yang tumbuh diisolasi kembali dengan ditanamkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.

2.        Eksplorasi dari bahan tanaman
Beberapa jamur antagonis mampu tumbuh pada bahan tanaman yang telah lapuk, bahan tanaman sakit, bahkan dapat tumbuh pada badan buah patogen tanaman tertentu. Jamur antagonis yang paling sering tumbuh pada kondisi seperti ini adalh genus trichoderma. Antagonis ini biasanya ditandai dengan tumbuhnya koloni berwarna hijau pada media tempat tumbuhnya. Koloni jamur yang diduga sebagai antagonis ini diisolasi di laboratorium dengan menanamkannya pada media Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.

3.        Eksplorasi dengan cara pemerangkapan (baiting method)
Teknik pemerangkapan biasanya dilakukan untuk mendapatkan jamur antagonis tertentu secara selektif. Pada umumnya, pemerangkapan dilakukan dengan menggunakan buah (misalnya apel), sayuran segar (misalnya timun dan wortel), atau bahan tanaman lain (misalnya daging buah kelapa), yakni dengan melukai bahan tersebut kemudian ditanamkan sebagian atau diletakkan di atas tanah rizosfer atau tanah berpenekanan (supressive soil), kemudian diamati setiap hari hingga tumbuh koloni jamur yang dicurigai sebagai antagonis. Koloni tersebut diisolasi di laboratorium  dengan menanamkannya pada media Dextrose Agar (PDA) dan diinkubasikan selama 3-5 hari. Koloni yang tumbuh diidentifikasi secara makroskopis dengan mengamati tipe dan warna koloni, dan secara mikroskopis dengan mengamati struktur hifa, bentuk dan ukuran pialid dan konidia.